pariwisata kabupaten jember

Antisipasi Agar Tidak Hilang, Malam Hari  Pintu di Gembok

  Dibaca : 95 kali
Antisipasi Agar Tidak Hilang, Malam Hari  Pintu di Gembok
Yuyun dilepas saat pagi hingga menjelang sore. Setelah itu, ruangan tempatnya tinggal sengaja dikunci oleh pihak keluarga lantaran khawatir Yuyun hilang

Petugas TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan) Ambulu, Muhammad Nauval meluruskan kabar yang beredar tekait penderita gangguan jiwa bernama Yuyun (53) di Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu yang disekap keluarganya di kandang pengap oleh keluarganya.

Yuyun dilepas saat pagi hingga menjelang sore. Setelah itu, ruangan tempatnya tinggal sengaja dikunci oleh pihak keluarga lantaran khawatir Yuyun hilang

Yuyun dilepas saat pagi hingga menjelang sore. Setelah itu, ruangan tempatnya tinggal sengaja dikunci oleh pihak keluarga lantaran khawatir Yuyun hilang

Menurut Nauval, keluarga bukanlah menyekap,  namun Yuyun tetap dilepas saat pagi hingga menjelang petang.

“Keluarga sengaja mengunci ruangan tempat Yuyun tinggal hanya saat petang saja. Pasalnya, Yuyun sempat beberapa kali menghilang dan keluarga kesulitan mencarinya. Pagi sekitar pukul 06.00 sampai sore dia pintu ruangannya dibuka dan Yuyun bebas beraktifitas seperti biasanya. Bukan karena dia membahayakan. Kadang dia juga bergaul dengan warga sekitar,” kata Nauval.

Informasi yang dia terima dari pihak keluarga, Yuyun tidaklah sejak awal ditempatkan diruang terpisah. Mulanya, sekitar tahun 2012, di awal-awal dia menderita gangguan jiwa di tinggal serumah dengan keluarga intinya.

Namun, lantaran jumlah anggota keluarga terus bertambah, sementara ukuran rumah lumayan kecil, akhirnya Yuyun ditempatkan terpisah.

”Ukuran rumah keluarganya cukup sempit, berkisar 4X6 meter persegi saja. Sementara di situ tinggal orangtua, kakak Yuyun, dan anak-anaknya,” sambungnya.

Akhirnya, Yuyun yang bernama lengkat Siti Wahyuni itu dibuatkan ruangan terpisah dari anyaman bambu di sisi rumahnya. Meski demikian, lantaran tanah yang ditempati bukan milik keluarga (numpang ke tetangga), pemilik tanah pada perjalannya merasa keberatan.

“Dia dipindah dibelakang yang berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya,” tutur Pria yang juga menjadi Koordinator Korban Pasung Jember itu.

Yuyun sendiri mulai menderita gangguan jiwa sejak 2012 silam, selepas merantau dari Bali. Dia sempat mendapatkan perawatan inap di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang, Malang selama dua tahun. 2014 Yuyun dipulangkan dan menjalani rawat jalan tiap bulan di Puskesmas setempat.

“Dia tidak terdata sebagai pasien BPJS, sehingga fasilitas berobatnya didapat dari tenaga keswa (kesehatan jiwa), sinergi antara Dinsos dan Dinkes,” lanjut Noval.

Kabar yang beredar di media sosial sebelumnya, Yuyun sengaja disekap oleh keluarganya di kandang pengap berukuran 2×2 meter persegi. Dalam pemberitaan itu juga disampaikan jika Yuyun disekap dengan alasan membahayakan lingkungan sekitar. (lum/mzm)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional